Senin, September 07, 2015

Cerita Dibalik Film Abad Kejayaan

Gerbang Cerita – Abad Kejayaan adalah sebuah serial televisi sinetron Turki yang berlatarbelakang kisah Kerajaan Ottoman masa lampau, yang kini sangat populer diperbincangkan atau pun diperdebatkan baik dari kalangan remaja hingga orang tua. Film bersejarah ini sangat diminati oleh para pemirsa TV Indonesia.

cerita-dibalik-film-abad-kejayaan

Film yang tayang di salah satu siaran TV Indonesia ini yaitu tapatnya stasiun TV ANTV sangat memikat hati para penonton karena kisah kerajaan yang penuh entrik, konflik, dan pengkhianatan yang membuat hati sangat senang ketika menontonnya dan ikut merasakan ketegangan yang terjadi dalam serial drama Turki ini.

Abad Kejayaan atau yang dulu dikenal dengan King Sulaiman ini menceritakan tentang kehidupan Sultan Ottoman Sulaiman I atau yang juga dikenal dengan nama Sulaiman The Magneficent. Ia adalah Sultan Kekaisaran Ottoman termashyur yang paling kuat, tangguh, berjaya, berkuasa yang paling lama memerintah di abad pertengahan itu.

Menurut sejarah Sultan Sulaiman I lahir pada tanggal 6 November 1494 dan berkuasa sejak 30 September 1520 ketika ia berumur 26 tahun, ia menduduki tahta kerajaan hingga tahun 1566. Total beliau memerintah Turki Utsmaniyah yaitu selama 46 tahun.

Sultan Sulaiman adalah sosok pria yang cerdas dan pandai, ini dibuktikan karena ia sangat pandai di bidang syair dan mahir dalam membuat emas. Sultan Sulaiman juga sangat mahir berbahasa Turki Utsmaniyah dan menguasai berbagai bahasa seperti Arab, Serbia, Chagatai, dan Persia.
Sultan Sulaiman dikenal karena pencapaiannya dalam penyusunan sistem undang-undang Utsmaniyah dan ia sangat dikenal karena telah banyak menaklukkan wilayah di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Pada abad ke-16, Sultan Sulaiman adalah salah seorang tokoh penting di Eropa. Di bawah kepemimpinan beliau Turki Utsmaniyah menguasai wilayah-wilayah penting di dunia, seperti Laut Tengah, Laut Merah, dan Teluk Persia.
Ketika Sultan Sulaiman memimpin, Utsmaniyah memperbaiki hukum kanonik dan bentuk kekaisaran. Ia melancarkan reformasi di tingkat legislatif yang berhubungan dengan masyarakat, pendidikan, perpajakan, dan hukum kriminal.

Di bawah kendalinya, Utsmaniyah mengalami masa puncak kejayaan di bidang seni, sastra dan arsitektur karena Sultan Sulaiman adalah seorang pelindung budaya yang sangat besar.
Di dalam serial sinetron tersebut bukan hanya menceritakan tentang kejayaan Turki Utsmaniyah ketika itu, tetapi menceritakan juga berbagai masalah atau konflik yang terjadi di dalam kerajaan.
Kehidupan pribadi Sultan Sulaiman tidak secemerlang kehidupannya ketika menjalani pemerintahan. Sultan Sulaiman melanggar tradisi kerajaan Utsmaniyah dengan menikahi seorang wanita harem yang bernama Roxelena atau yang dikenal di dalam serial sinetron dengan nama “Hurem”.
Ia lahir di kota Rohatyn, yang saat itu dikuasai oleh Kerajaan Polandia. Pada tahun 1520-an, ia ditangkap oleh bangsa Tatar Krimea dan diperbudak ke Kaffa, lalu ke Konstatinopel. Kemudian, ia dipilih untuk masuk ke Harem Sulaiman. Segera Hurem menarik perhatian Sang Sultan Sulaiman, dan membuat perempuan-perempuan harem lainnya cemburu. Itulah awal mula sang Hurem masuk ke dalam Istana dan mengenal Sang Sultan Sulaiman. Sultan Sulaiman pun jatuh hati dan terpukau karena kecantikan dari Hurem Roxelena.

kejadian itu membuat banyak pengamat kerajaan tercengang saat sang Hurem akhirnya bisa menjadi Sultana atau istri sah dari Sultan Sulaiman I, kejadian itu menjadi hal baru yang melanggar tradisi dalam kerajaan Utsmaniyah yang selama lebih dari dua abad lamanya. Di sini lah awal mula cerita seorang Hurem yang menjalani hidup sebagai seorang Sultana atau istri resmi dari Kaisar Ottoman Sultan Sulaiman I. Dalam kehidupan sehari-hari di Istana, Hurem menjadi penasihat dan mempengaruhi jalannya urusan luar negeri saat itu. Beberapa sejarawan juga meyakini bahwa Hurem memengaruhi suaminya Sultan Sulaiman agar mengontrol penjara bangsa Tatar Krimea di tanah kelahirannya.

Saat sang Sultan menikahi Hurem,hal itu membuat Hurem Roxelena pun diperbolehkan tinggal di dalam Istana bersama sang suami Sultan Sulaiman. Padahal, seharusnya seorang Hurem ditempatkan di kota lain bersama anaknnya. Dan tidak boleh kembali kecuali sang anak menjadi penerus tahta kerajaan, namun hal tersebut tidak terjadi kepada Hurem, demi seorang selir yang kemudian diangkatnnnya menjadi istri itu, Sultan Sulaiman I rela melanggar banyak tradisi kerajaan Ottoman. Kejadian itu lah yang membuat iri para saudara-saudara dari Sultan Sulaiman kepada sang Hurem. Kejadian itu pula yang membuat suasana istana ketika itu sangat penuh dengan konflik. Menurut sejarah Sultan Sulaiman I memiliki 1 orang anak dari pelayan yang bernama Mahidefran dan memilki 5 orang anak dari istri resminya Hurem. Anak dari pelayannya Mahidefran bernama Pangeran Mustafa dan anak dari Hurem bernama Pangeran Mehmet, Putri Mihrima, Pangeran Zelim, Pangeran Beyazid, dan Pangeran Chiangir.

Di dalam serial sinetron Abad Kejayaan, seiring berjalannya waktu Sang Sultan pun kehilangan beberapa anaknya. Yang pertama yaitu Pangeran Mehmet, ia meninggal karena keracunan, ia diracun oleh pengawal pribadinya sendiri yang berkhianat dan mematuhi perintah dari Mahidefran. Kemudian Sultan Sulaiman kehilangan anaknya dari pelayannya Mahidefran yang ketika itu sangat mendominasi tahta kerajaan Ottoman yaitu Pangeran Mustafa, ia meniggal karena di eksekusi atas perintah Sang Kaisar Ottoman tersebut. Menurut cerita dan sejarah Pangeran Mustafa di eksekusi karena difitnah, ia dituduh atas pemberontakan dan berniat menurunkan tahta King Sulaiman ketika itu. Hal tersebut yang membuat Sultan Sulaiman murka terhadap anaknya sendiri dan terpaksa mengeksekusi Pangeran Mustafa demi keamanan Kerajaan Ottoman. Kematian dari Pangeran Mustafa membuat hati sang adik yaitu Pangeran Chiangir menjadi hancur dan mulai mengalami sakit yang tak dapat disembuhkan, tidak lama kemudian Pangeran Chiangir pun wafat karena kesedihan yang sangat dalam akibat trauma melihat sang kakak tirinya dieksekusi mati di medan perang.

Jadi, yang tersisa tinggal Putri Mihrima, Pangeran Zelim, dan Pangeran Beyazid. Bertahun-tahun pun berlalu dan perselisihan antar dua Pangeran Sultan Sulaiman yaitu Pangeran Zelim dan Pangeran Beyazid pun semakin tak terhindarkan. Perselisihan mereka sudah sering terjadi ketika kecil sampai saat perebutan tahta kerajaan.

Namun, ketika api perselisihan antara dua Pangeran tersebut Sang Sultan Sulaiman I kehilangan istri tercintanya yaitu Hurem Roxelena yang wafat akibat penyakit yang tidak dapat disembuhkan pada tanggal 15 April 1558 dan dikuburkan di Masjid Sulaiman, Konstatinopel atas perintah sang Sultan.
Dua Pangeran yang tersisa Beyazid dan Zelim, diberikan daerah kekuasaan masing-masing oleh ayahnya Sultan Sulaiman. Namun, dalam beberapa tahun perang saudara pecah, keduanya didukung oleh pasukan-pasukannya masing-masing. Dengan bantuan pasukan dari ayahnya Pangeran Zelim berhasil mengalahkan adiknya Pangeran Beyazid di Konya pada tahun 1559. Kekalahan tersebut pun membuat Pangeran Beyazid lari ke Persia bersama keempat anaknya. Dalam sebuah perjanjian, Sultan Sulaiman meminta kepada Shah Persia untuk mengeksekusi Beyazid dengan imbalan sejumlah emas yang banyak. Shah Persia akhirnya mengizinkan algojo dari Turki untuk mengeksekusi Beyazid dan keempat anaknya pada tahun 1561. Kejadian itu memuluskan langkah Pangeran Zelim ke Singgahsana Tahta Kerajaan Ottoman.


Pada tanggal 5 atau 6 September 1566, Sultan Sulaiman I yang ketika itu hendak memimpin pasukan dalam ekspedisi ke Hongaria, meninggal dunia. Dan Pangeran Zelim pun menggantikan ayahnya Sultan Sulaiman I sebagai Kaisar Kerajaan Ottoman.

Itulah cerita dibalik film Abad Kejayaan, semoga dapat bermanfaat dan bisa dijadikan pelajaran atau menambah pengetahuan mengenai sejarah dunia.
Sumber
Galery Berita Unik Dan Menarik
Galery Berita unik dan Menarik Updated at: 9/07/2015 11:21:00 PM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Xpresikan Komentar sobat disini sesuka hati, sesuai dengan Tuntunan Demokrasi dan tanpa menyakiti siapapun yang tak layak disakiti !!!
No Spam
No Life Link
No Sara
No Teror